27 April 2012

Perjuangan Roberto Di Matteo Mencari Penutup Karier


Pengalaman sangat menyakitkan, dipaksa menutup karier sebagai pesepak bola pada usia 30 tahun gara-gara cedera, sulit diterima Roberto Di Matteo. Luka mental yang sangat dalam itu terus dibawa Di Matteo, yang justru membuatnya kuat dalam menghadapi berbagai cobaan kemudian.

”Secara psikologis dan mental, itu sangat sulit. Paling utama, sangat sulit menerima kenyataan tidak bisa mengakhiri karier sepak bola secara normal dan dipaksa melakukan sesuatu yang lain,” ujarnya seperti ditulis The Telegraph.

Di Matteo, yang lahir di Schauffhausen, Swiss, 29 Mei 1970, berterus terang bahwa dirinya sempat mengalami depresi berat. ”Saya harus menghadapi hal itu, yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam hidup saya. Diperlukan lima tahun dan saya melakukan banyak hal lain (untuk mengatasinya),” ujarnya.

Setiap hari, Di Matteo teringat malam pertandingan di Zurich, pertandingan Piala UEFA antara Chelsea dan St Gallen, 12 tahun lalu, yang membuat dia menderita cedera berat sehingga harus berhenti sebagai pemain bola. Untunglah dia segera menyadari dan bisa menerimanya bahwa pada usia 30 tahun dia harus mengakhiri kariernya. ”Itu adalah sebuah kecelakaan. Itu bisa terjadi kepada siapa pun,” ujarnya.

Selama 18 bulan Di Matteo berusaha kembali menemukan kemampuannya sebagai pemain, tetapi hasilnya mengecewakan. Di Matteo yang biasa bermain sebagai gelandang akhirnya menerima kenyataan kariernya sebagai pemain sudah berakhir.

”Saya kembali ke sekolah, saya belajar dan mengambil kursus kepelatihan. Saya juga sempat bekerja di media, menjadi pengusaha restoran untuk membuat saya sibuk, dan saya berusaha mencari jalan keluar,” ujarnya.

Diakuinya, sangat sulit untuk keluar dari sepak bola, yang telah menjadi kehidupannya. Di Matteo pun berusaha sepenuhnya meninggalkan sepak bola. Jawabannya adalah, dia perlu suatu penutup untuk mengakhiri hidupnya di sepak bola. Kebutuhan mencari penutup itulah yang membuatnya kembali bersemangat dan melibatkan diri sepenuhnya di sepak bola.

Di Matteo pun menemukan jalannya dengan duduk di manajemen MK Dons yang dia kelola mulai musim panas 2008 dan berakhir di posisi ketiga di liga Divisi Satu pada musim pertama sebagai pelatih. Dia melangkah ke West Bromwich Albion yang berhasil dia promosikan masuk ke Liga Primer dengan gaya permainan menyerang. Namun, dia kemudian dipecat pada Januari 2011 yang membuatnya kembali terluka.

”Saya rasa saya telah melakukan tugas dengan baik dan itu diakui industri sepak bola. Saya rasa itulah salah satu alasan mengapa saya duduk di sini sekarang,” katanya menceritakan bagaimana dia bisa sampai kembali di Chelsea.

Di Matteo tidak mengenal Andre Villas-Boas ketika manajer asal Portugal itu meneleponnya. ”Hubungan yang sangat alami. Kami bertemu dan kami saling memahami dan ideologi sepak bola kami sama. Sepertinya kami sudah lama saling mengenal.”

Setelah Villas-Boas diberhentikan, Di Matteo menyadari inilah kesempatan besar baginya untuk menutup karier sepak bolanya dengan indah dan penuh kenangan. Dia pun memulainya dengan sangat hati-hati, yaitu mempelajari apa yang membuat Manajer Villas-Boas gagal menukangi Chelsea.

Jika melihat hasilnya sampai saat ini, Di Matteo agaknya telah berhasil mengubah pengalaman pahitnya menjadi buah yang manis. Akankah ini terus berlanjut?



sumber

Pemerintah Janjikan Internet Kencang Akhir Tahun Ini


Tak lama lagi, masyarakat Indonesia dapat merasakan kecepatan internet yang mumpuni.

Ini dapat dirasakan saat Nusantara Internet Exchange (NIX) telah menjangkau 33 provinsi di Indonesia yang diperkirakan akan selesai pada akhir 2012 ini.

Hingga saat ini, NIX yang sudah siap dioperasikan sudah berjumlah 8 unit dan pembangunannya terus dilanjutkan hingga akhir tahun.

Nantinya, saat proyek NIX ini selesai,  kecepatan internet Indonesia akan meningkat. Terutama untuk akses konten yang berada di jaringan dalam negeri.

Hal ini disampaikan oleh Woro Indah, mewakili Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika (Dirjen Postel) dalam e-Indonesia Initiatives Forum (eII Forum) ke-8.

"Setiap NIX akan terdiri dari 15 server di mana masing-masing server akan memiliki bandwidth 15terabyte. Setiap server akan terdiri dari 200 rak," ungkap Woro di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/4/2012).

Pernyataan ini menjawab pertanyaan mengenai dukungan pemerintah terhadap perkembangan komputasi awan di Indonesia. Menurut Woro, NIX merupakan Infrastructure as a Service (IaaS) dalam adopsi komputasi awan di Indonesia.

Dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 21/PER/M.KOMINFO/12/2010, NIX adalah Internet Exchange Point (IEP) yang dibiayai melalui dana kontribusi Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi. IEP tersebut merupakan titik di mana routing trafik internet berkumpul untuk saling berinterkoneksi.

Tujuan dibangunnya adalah untuk:
  • Mendistribusikan trafik internet di wilayah pelayanan universal telekomunikasi, trafik nasional, dan internasional.
  • Mengurangi latency, meningkatkan kecepatan layanan internet.
  • Mengefisiensikan routing trafik internet.
  • Mengurangi biaya pengiriman trafik nasional dan  internasional.
Pengguna NIX untuk trafik nasional adalah penyelenggara jasa akses internet (internet service provider), penyelenggara jasa interkoneksi internet (network access point), dan atau penyelenggara sistem elektronik yang memiliki AS Number.

Adapun pengguna NIX untuk trafik internasional adalah penyelenggara jasa akses internet (internet service provider) dan penyelenggara jasa interkoneksi internet (network access point).

Tender NIX yang dilakukan tahun 2011 terdiri dari 13 paket. Kepanitiaannya ditangani langsung oleh  Balai Penyedia, Pengelola, Pendanaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI), yaitu suatu unit pelaksana teknis di Kementerian Kominfo yang mengelola keuangan secara  Pola Pengelolaan Keuangan (PPK),  Badan Layanan Umum (BLU), berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.



sumber
Related Posts with Thumbnails