Namanya Lu Hao, umurnya baru tiga tahun, tapi di dunianya yang masih sangat muda ini, Lu Hao sudah punya sebuah penghargaan tingkat dunia (Saya tak tahu, apakah ini layak disebut sebagai penghargaan), Penghargaan sebagai Balita tergemuk di dunia.
Anak pasangan Lu Yuncheng dan Nyonya Yuncheng ini berat tubuhnya mencapai 60 kilogram (Weleh-weleh, usia tiga tahun berat badannya sudah 60 kilogram, gimana nanti kalo udah gedhe). dengan berat badan itu, Lu Hao terkadang kesulitan untuk bergerak bebas, bahkan untuk berdiri dari duduk pun ia terkadang merasa kesulitan.
Ayahnya mengaku bahwa sebenarnya, pada saat kelahiran, berat badan Lu Hao hanya 2,6 kilogram, yaitu berat normal untuk bayi pada masa kelahiran, namun di usia yang ketiga bulan, nafsu makan Lu hao menjadi tak terkendali, dalam sekali makan, Lu Hao bisa menghabiskan sampai tiga piring nasi dengan lauknya.
sumber

Meningkatnya kasus penyakit jantung dan kolesterol di Indonesia ternyata sangat berhubungan erat dengan pola makan atau meal patterns orang Indonesia yang sangat sulit diubah.
Widjaja Lukito, dokter spesialis gizi klinik yang juga sekretaris anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang kesejahteraan rakyat menjelaskan, pola makan orang Indonesia yang sangat berhubungan erat dengan etnik, faktor tradisional, cara penyajian, dan segi ekonomi membuat makanan yang dikonsumsi minim serat dan tidak sehat.
"Seperti contohnya santan kelapa, paling banyak dipakai masyarakat dari berbagai etnik untuk memasak. Padahal efeknya kurang baik untuk tubuh. Sementara untuk dihilangkan sama sekali tidak mungkin. Ini menyangkut daya beli dan keadaan lingkungan juga," jelas Widjaja yang ditemui dalam seminar tentang kolesterol minggu lalu di Jakarta.
Begitu juga dengan presentase dietary fiber orang Indonesia, menurut Widjaja bila ditemukan ada orang yang konsumsi fibernya 12 persen saja sudah sangat baik sekali di Indonesia. "Padahal di luar rata-rata 25 persen," tambahnya.
"Ini yang membuat penyakit degeneratif semakin banyak kasusnya. Sebab kita sangat sulit mengubah meal patterns orang Indonesia. Bayangkan saja food compotition kita saja tidak pernah berubah, kalau pun berubah hanya seputaran itu-itu saja. Tidak berkembang. Bila memang ingin melakukan perubahan setidaknya para ahli di Indonesia, seperti ahli jantung, ahli gizi dan nutrisi semua harus duduk bersama membicarakan ini," kata Widjaja.
sumber